Evaluasi Fasilitas Integrasi Moda Pada Stasiun LRT Bekasi Barat Dan Cikunir 2 Menggunakan Metode MIM

Dublin Core

Title

Evaluasi Fasilitas Integrasi Moda Pada Stasiun LRT Bekasi Barat Dan Cikunir 2 Menggunakan Metode MIM

Creator

MUHAMAD FAHRUR ROZI
NIT : 2140201

Type

Tugas Akhir

Abstract

LRT Jabodebek adalah kereta api ringan yang terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. LRT ini dibangun secara elevated di atas badan jalan tol dengan 3 lintas pelayanan sepanjang 42,1 kilometer dan memiliki total 18 stasiun. Pembangunan elevated ini menguntungkan karena tidak memerlukan pembebasan lahan dan mengurangi biaya pembangunan. Namun, terdapat masalah konektivitas antara LRT Jabodebek dengan moda transportasi umum lain, seperti di Stasiun Cikunir 2 yang hanya dapat diakses menggunakan angkot. Jumlah penumpang masih rendah, dengan rata-rata load factor di bawah 50% dari September 2023 sampai April 2024. Stasiun Bekasi Barat sudah dilayani beberapa moda dengan jarak yang relatif sesuai, namun fasilitas penunjang seperti kanopi dan trotoar belum tersedia. Di Stasiun Cikunir 2, jarak menuju tempat naik/turun angkot mencapai 1.017 meter, yang dikategorikan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah penumpang LRT Jabodebek dengan mengevaluasi fasilitas integrasi moda di Stasiun Bekasi Barat dan Cikunir 2. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi kondisi eksisting fasilitas integrasi moda di Stasiun Bekasi Barat dan Cikunir 2, serta survei kepada penumpang LRT terkait karakteristik pengguna dan kesediaan mereka dalam mengakses fasilitas integrasi moda. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif dan Metode Modal Interaction Matrix. Penumpang LRT Jabodebek di Stasiun Bekasi Barat dan Cikunir 2 didominasi oleh laki-laki berusia 26-35 tahun dengan pendidikan D4/Sarjana, bekerja sebagai karyawan swasta, dan berpenghasilan lebih dari 5 juta per bulan. Mayoritas penumpang menggunakan ojek online atau kendaraan pribadi, dengan biaya perjalanan rata-rata Rp 10.000-14.900 untuk Bekasi Barat dan Rp 15.000-19.900 untuk Cikunir 2. Asal/tujuan penumpang mayoritas adalah Bekasi Selatan dan Bekasi Barat, dengan maksud perjalanan untuk bekerja dan pulang, frekuensi penggunaan lebih dari 3 kali seminggu, dan stasiun tujuan mayoritas adalah Stasiun Dukuh Atas dan Kuningan. Hal ini sesuai dengan lokasi infrastruktur LRT yang berada disepanjang jalan tol (elevated). Nilai interaksi fasilitas integrasi moda di Stasiun Bekasi Barat dan Cikunir 2 dihitung menggunakan Metode Modal Interaction Matrix, menghasilkan nilai negatif -35 untuk Bekasi Barat dan -28 untuk Cikunir 2, yang setelah dinormalisasi menjadi -390 dan -467 dengan kategori sangat buruk. Setelah penerapan rekomendasi penempatan fasilitas integrasi moda, nilai Normalized Score meningkat menjadi -90 untuk Bekasi Barat (kategori baik) dan -67 untuk Cikunir 2 (kategori baik). Hal ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan demand penumpang LRT Jabodebek.

Kata Kunci : LRT, Penumpang, Elevated, Fasilitas Integrasi Moda, Modal Interaction Matrix

Social Bookmarking

Document Viewer

Citation

MUHAMAD FAHRUR ROZI NIT : 2140201 , “Evaluasi Fasilitas Integrasi Moda Pada Stasiun LRT Bekasi Barat Dan Cikunir 2 Menggunakan Metode MIM,” Repository PPI Madiun, accessed July 10, 2026, https://repository.ppi.ac.id/items/show/964.