ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN DI PERMUKIMAN SEKITAR REL KERETA API KELURAHAN TAMBAKREJO DENGAN METODE MAEKAWA

Dublin Core

Title

ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN DI PERMUKIMAN SEKITAR REL KERETA API KELURAHAN TAMBAKREJO DENGAN METODE MAEKAWA

Creator

DODI SUPRAYOGI
NIT : 2140071

Type

TUGAS AKHIR

Abstract

Kelurahan Tambakrejo di Semarang dilintasi jalur kereta api aktif dengan 76 perjalanan kereta api setiap hari, baik kereta penumpang maupun kereta barang. Hasil observasi lapangan dan penyebaran kuesioner menunjukkan bahwa permukiman padat penduduk di bagian utara rel kereta api tidak memiliki penghalang yang memadai. Akibatnya, warga merasakan gangguan akibat kebisingan yang ditimbulkan oleh kereta api. Penelitian ini bertujuan untuk memahami tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas kereta api di sekitar area permukiman dan bagaimana sebarannya, membandingkan hasil pengukuran dengan batas kebisingan yang ditetapkan oleh KEPMENLH No. 48 Tahun 1996, serta melakukan langkah pengendalian berupa pembuatan penghalang suara (noise barrier) menggunakan Metode Perhitungan Maekawa. Langkah pertama adalah observasi lapangan untuk menentukan lokasi pengambilan data dan penyebaran kuesioner guna mengetahui tingkat gangguan warga di sekitar titik penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan mengukur tingkat kebisingan menggunakan alat SLM (sound level meter) di 7 titik pengukuran pada 7 waktu berbeda. Kemudian dilakukan perhitungan yang meliputi tingkat kebisingan ekuivalen (Leq), tingkat kebisingan siang hari (Ls), malam hari (Lm), dan tingkat kebisingan rata-rata sinambung (Lsm). Perancangan penghalang suara dilakukan dengan Metode Perhitungan Maekawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada siang hari (Ls) pengukuran hari pertama berkisar 89,8 dBA, 88,4 dBA di hari kedua serta 88,6 dBA pada hari ketiga. Sementara nilai tingkat kebisingan pada malam hari (Lm) pengukuran hari pertama berkisar 84,4 dBA, 84,2 dBA pada hari ke dua serta 84,6 dBA pada pengukuran hari ketiga. Pada nilai sinambung rata-rata siang malam (Lsm) pengukuran hari pertama pada permukiman penduduk adalah sebesar 89,6 dBA, 88,7 dBA pada hari kedua serta 88,9 dBA pada pengukuran di hari ketiga. ii Nilai ini melampaui batas baku mutu kebisingan yang ditetapkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48/KEP/MENLH/11/1996 sebesar 55 dBA dengan toleransi +3. Melalui Metode Maekawa, tingkat kebisingan di permukiman akan turun menjadi 55,82 dBA dengan pemasangan penghalang pada jarak 2,2 meter dari rel kereta api dengan panjang 315,12 meter dan tinggi 5,2 meter menggunakan material cinder concrete. Namun, karena cinder concrete memiliki tinggi efektif maksimal 4 meter, diperlukan tambahan penghalang alami (natural barrier) menggunakan tanaman Sebe (Heliconia sp), yang efektif menurunkan kebisingan hingga 57,39 dB, sesuai dengan nilai toleransi pada ambang batas kebisingan untuk permukiman.

Kata kunci: Kebisingan, Kereta api, Permukiman, Metode maekawa, Noise barrier.

Social Bookmarking

Document Viewer

Citation

DODI SUPRAYOGI NIT : 2140071, “ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN DI PERMUKIMAN SEKITAR REL KERETA API KELURAHAN TAMBAKREJO DENGAN METODE MAEKAWA,” Repository PPI Madiun, accessed July 22, 2026, https://repository.ppi.ac.id/items/show/936.